Demo Site

Jumat, 11 Juni 2010

Urinalisa

Terdapat beberapa macam pemeriksaan urin, yaitu urinalisis, tes kehamilan, tes narkoba, biakan kuman, kepekaan obat, dsb. Urinalisis atau tes urin rutin digunakan untuk mengetahui fungsi ginjal dan mengetahui adanya infeksi pada ginjal atau saluran kemih. Tes ini terdiri dari dua macam, yaitu : tes makroskopik dan tes mikroskopik.


Tes makroskopik dilakukan dengan cara visual. Pada tes ini biasanya menggunakan reagen strip yang dicelupkan sebentar ke dalam urine lalu mengamati perubahan warna yang terjadi pada strip dan membandingkannya dengan grafik warna standar. Tes ini bertujuan mengetahui pH, berat jenis (BJ), glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, darah, keton, nitrit dan lekosit esterase.

Tes mikroskopik dilakukan dengan memutar (centrifuge) urin lalu mengamati endapan urin di bawah mikroskop. Tes ini bertujuan untuk mengetahui : (1) unsur-unsur organik (sel-sel : eritrosit, lekosit, epitel), silinder, silindroid, benang lendir; (2) unusur anorganik (kristal, garam amorf); (3) elemen lain (bakteri, sel jamur, parasit Trichomonas sp., spermatozoa).


pH
Ini adalah derajat keasaman air seni. pH urine pada orang normal adalah 4,8 – 7,4. pH di bawah 7,0 disebut asam (acid) dan pH di atas 7,0 dinamakan basa (alkali). Beberapa keadaan dapat menyebabkan pH urine menjadi basa , misalnya : diet vegetarian, setelah makan, muntah hebat, infeksi saluran kencing oleh bakteri Proteus atau Pseudomonas, urine yang disimpan lama, terapi obat-obatan tertentu, atau gangguan proses pengasaman pada bagian tubulus ginjal. Sebaliknya, pH urine bisa menjadi rendah atau asam dapat dijumpai pada : diabetes, demam pada anak, asidosis sistemik, terapi obat-obatan tertentu.

Berat Jenis
Berat jenis (BJ) atau specific gravity (SG) dipengaruhi oleh tingkat keenceran air seni. Pada orang normal, berat jenis urine adalah 1,015 – 1,025. Seberapa banyak Anda minum atau berkemih akan mempengaruhi BJ urine; semakin banyak berkemih, akan semakin rendah BJ, demikian sebaliknya. Adanya protein atau glukosa dalam urine akan meningkatkan BJ urine. Jika ada protein dalam urine, maka setiap 1% proteinuria BJ bertambah 0,003. Jika ada glukosa dalam urine, maka setiap 1% glukosuria BJ bertambah 0,004.

Glukosa
Biasanya tidak ada glukosa dalam air seni. Adanya glukosa dalam urine (disebut glukosuria) harus diwaspadai adanya gangguan atau penyakit. Jika glukosuria bersama hiperglikemia (=peningkatan kadar gula dalam darah), maka kemungkinan adalah : diabetes mellitus (DM), sindrom Cushing, penyakit pankreas, kelainan susunan syaraf pusat, gangguan metabolisme berat (misalnya pada kebakaran hebat, penyakit hati lanjut, sepsis, dsb), atau oleh karena obat-obatan kortikosteroid, thiazide, obat kontrasepsi oral).
Jika glukosuria tanpa hiperglikemia dapat dijumpai pada : kelainan fungsi tubulus ginjal, kehamilan, gula selain glukosa dalam urine atau makan buah-buahan sangat banyak.

Protein
Biasanya tidak ada protein yang terdeteksi pada urinalisis. Adanya protein dalam urine disebut proteinuria. Proteinuria menunjukkan kerusakan pada ginjal, adanya darah dalam air kencing atau infeksi kuman. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proteinuria adalah : penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefropati karena diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid), demam, hipertensi, multiple myeloma, keracunan kehamilan (pre-eklampsia, eklampsia), infeksi saluran kemih (urinary tract infection). Proteinuria juga dapat dijumpai pada orang sehat setelah kerja jasmani, urine yang pekat atau stress karena emosi

Bilirubin dan Urobilinogen
Bilirubin adalah produk perombakan hemoglobin (zat warna merah darah) oleh sel-sel retikuloendotel yang tersebar di seluruh tubuh. Bilirubin semula bersifat tidak larut air, kemudian oleh hati dikonjugasi sehingga larut air. Selanjutnya, bakteri-bakteri dalam usus akan mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Karena proses oksidasi, urobilinogen berubah menjadi urobilin, suatu zat yang memberikan warna yang khas pada urine. Dalam keadaan normal bilirubin tidak ada dalam urine. Adanya bilirubin dalam urine (bilirubinuria) menggambarkan kerusakan sel hati (misalnya hepatitis) atau sumbatan saluran empedu.
Peningkatan urobilinogen dalam urine menggambarkan adanya kerusakan sel hati (misalnya hepatitis) atau peningkatan perombakan hemoglobin. Sedangkan pada sumbatan saluran empedu, urobilin tidak dijumpai dalam urine.

Darah
Dalam keadaan normal, tidak ada darah atau hemoglobin dalam air seni. Adanya darah dalam urine (hemoglobinuria) dapat menunjukkan adanya trauma atau perdarahan pada ginjal atau saluran kemih, infeksi, tumor, batu ginjal.

Nitrit
Dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolism protein. Jika terdapat infeksi saluran kemih (urinary tract infection) oleh kuman dari spesies Enterobacter, Citrobacter, Escherichia, Proteus dan Klebsiela yang mengandung enzim reduktase, maka nitrat akan diubah menjadi nitrit.

Keton
Keton merupakan sampah hasil metabolisme lemak. Jika persediaan glukosa menurun, maka untuk mencukupi suplai energi, cadangan lemak yang ada dimetabolisme. Peningkatan metabolisme lemak ini menyebabkan penumpukan keton (asam betahidroksi butirat, asam aseto asetat dan aseton) dalam urine atau dinamakan ketonuria. Ketonuria dapat dijumpai pada penderita diabetes mellitus atau pada orang yang kelaparan.

Lekosit Esterase
Lekosit esterase adalah enzim yang dikeluarkan oleh sel lekosit netrofil. Dalam keadaan normal tidak ditemukan lekosit esterase. Adanya lekosit esterase dalam air seni menunjukkan infeksi saluran kemih (urinary tract infection).

Sedimen / Endapan
Pemeriksaan sedimen urine dilakukan secara mikroskopik untuk mengetahui adanya : (1) material organik, yaitu sel-sel (eritrosit, lekosit, epitel), silinder (cast) dan bentuk lain : silindroid, benang lender; (2) material anorganik, yaitu garam amorf dan kristal; (3) elemen lain, seperti bakteri, parasit Trichomonas sp., jamur (misal Candida), atau spermatozoa.

Eritrosit. Dalam keadaan normal, terdapat 0 – 2 sel eritrosit dalam urine. Jumlah eritrosit yang meningkat menggambarkan adanya trauma atau perdarahan pada ginjal dan saluran kemih, infeksi, tumor, batu ginjal.

Lekosit. Dalam keadaan normal, jumlah lekosit dalam urine adalah 0 – 4 sel. Peningkatan jumlah lekosit menunjukkan adanya peradangan, infeksi atau tumor.

Epitel. Ini adalah sel yang menyusun permukaan dinding bagian dalam ginjal dan saluran kemih. Sel-sel epitel hampir selalu ada dalam urine, apalagi yang berasal dari kandung kemih (vesica urinary), urethra dan vagina.

Silinder (cast). Ini adalah mukoprotein yang dinamakan protein Tam Horsfal yang terbentuk di tubulus ginjal. Terdapat beberapa jenis silinder, yaitu : silinder hialin, silinder granuler, silinder eritrosit, silinder lekosit, silinder epitel dan silinder lilin (wax cast). Silinder hialin menunjukkan kepada iritasi atau kelainan yang ringan. Sedangkan silinder-silinder yang lainnya menunjukkan kelainan atau kerusakan yang lebih berat pada tubulus ginjal.

Kristal. Dalam keadaan fisiologik / normal, garam-garam yang dikeluarkan bersama urine (misal oksalat, asam urat, fosfat, cystin) akan terkristalisasi (mengeras) dan sering tidak dianggap sesuatu yang berarti. Pembentukan kristal atau garam amorf dipengaruhi oleh jenis makanan, banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan konsentrasi urine (tergantung banyak-sedikitnya minum).
Yang perlu diwaspadai jika kristal-kristal tersebut ternyata berpotensi terhadap pembentukan batu ginjal. Batu terbentuk jika konsentrasi garam-garam tersebut melampaui keseimbangan kelarutan. Butir-butir mengendap dalam saluran urine, mengeras dan terbentuk batu.

Silindroid. Ini adalah material yang menyerupai silinder. Tidak memiliki arti yang banyak, mungkin sekali berrati adanya radang yang ringan.

Benang lendir (mucus filaments). Ini didapat pada iritasi permukaan selaput lendir saluran kemih.

Spermatozoa, bisa ditemukan dalam urin pria atau wanita dan tidak memiliki arti klinik.

Bakteri. Bakteri yang dijumpai bersama lekosit yang meningkat menunjukkan adanya infeksi dan dapat diperiksa lebih lanjut dengan pewarnaan Gram atau dengan biakan (kultur) urin untuk identifikasi. Tetapi jika ada bakteri namun sedimen “bersih”, kemungkinan itu merupakan cemaran (kontaminasi) saja.

Sel jamur menunjukkan infeksi oleh jamur (misalnya Candida) atau mungkin hanya cemaran saja.

Trichomonas sp. Ini adalah parasit yang bila dijumpai dalam urin dapat menunjukkan infeksi pada saluran kemih pada laki-laki maupun perempuan.

Tentang Demam Berdarah Dengue

Hingga saat ini demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Penyebaran penyakit ini semakin luas dan insidennya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, sejak 1996 telah terjadi pergeseran kasus dari usia anak-anak ke usia dewasa.

Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis, termasuk Indonesia. Penyebabnya adalah infeksi virus dengue yang termasuk group B Arthropod borne virus (arboviruses) dan sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviridae yang memiliki empat serotype (den-1, den-2, den-3, dan den-4). Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah serotype virus den-1 dan den-3.

Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.

Manifestasi klinik dari infeksi dengue sangat bervariasi dari asimptomatik (tidak jelas gejalanya), demam dengue, sampai yang berat yakni demam berdarah dengue (DBD) dan dengue syok sindrom (DSS). Demam dengue ditandai dengan demam tinggi mendadak 3-7 hari, mialgia, sakit kepala, rash (kemerahan pada kulit) yang menyertai leukopenia (jumlah sel darah putih rendah) dan trombositopenia (jumlah trombosit rendah) dalam berbagai derajat.

Sebagai patokan untuk diagnosis DBD, WHO (1986) telah menetapkan kriteria diagnosis yang terdiri dari kriteria klinik dan laboratorik. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan atau overdiagnosis. Kriteria diagnosis DBD tersebut adalah sebagai berikut :

KRITERIA KLINIS
:
  • Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari,
  • Terdapat menifestasi perdarahan, termasuk uji tourniquet/Rumple Leed positif (petekie lebih dari 10 bintik pada diameter 5 cm), petekie (bintik-bintik merah pada kulit), ekimosis (kemerahan seperti ptekie tetapi lebih besar), epistaksis (mimisan), perdarahan gusi, hematemesis (muntah darah) dan/atau melena (berak darah),
  • Pembesaran hati atau hepatomegali. Kemungkinan penyebabnya adalah pelebaran pembuluh darah pada vena hepatika atau edema pada vesika felea,
  • Syok, ditandai nadi lemah dan cepat serta penurunan tekanan nadi, tekanan darah rendah (hipotensi), kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah. Syok disebabkan karena pelebaran pembuluh darah akibat kelainan permeabilitas pembuluh darah.
KRITERIA LABORATORIUM :
  • Penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) 100.000/mmk atau kurang. Pada umumnya trombositopeni terjadi sebelum peningkatan hematokrit dan terjadi sebelum suhu turun. Jumlah trombosit di bawah 100.000/mmk biasanya dijumpai antara hari ketiga sampai ketujuh demam;
  • Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan nilai hematokrit 20% atau lebih dari normal;
  • Penurunan jumlah sel darah putih (leucopenia). Leukopenia hampir selalu ada pada DBD, umumnya penurunannya terjadi antara 3.000 – 5.000 / mmk walau jumlahnya mungkin dapat menurun sampai 1.200/mmk. Jumlah leukosit total menurun selama periode demam dan jumlah terendah dijumpai pada hari kelima demam;
  • Diagnosis serologis Pada dasarnya uji serologis digunakan untuk melihat kenaikan titer antibodi fase konvalescen dan fase akut dalam serum penderita. Dikenal lima uji serologis yang biasa dipakai untuk deteksi infeksi virus dengue, yaitu : HI tes (Haemagglutination Inhibition test), CF test (Complement Fixation test), NT test (Neutralization Test), IgM dan IgG anti dengue;
  • Diagnosis virologisDiagnosis laboratorium virologi untuk infeksi virus dengue adalah dengan isolasi virus. Spesimen untuk Isolasi virus adalah specimen yang berasal dari tubuh penderita, seperti darah/serum, plasma, buffycoat, jaringan autopsi dari kasus yang meninggal dan nyamuk yang dikumpulkan dari alam. Selanjutnya spesimen tersebut ditanam pada biakan jaringan nyamuk atau biakan jaringan manusia, atau disuntikkan pada nyamuk. Identifikasi virus dilakukan dengan mengamati adanya cytopathic effect (CPE) pada biakan jaringan.

Dari kriteria pertama (klinis) ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DBD. Infeksi dengue tanpa disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi dinamakan Demam Dengue atau Dengue Fever


Waspadai Tanda dan Gejala DBD

Banyak orang mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala DBD yang kadang-kadang mirip dengan flu atau tipus. DBD dapat diketahui dengan memperhatikan tanda-tanda dan gejala seperti berikut : demam yang muncul secara tiba-tiba disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan bintik-bintik merah terang (petechie). Selain itu, bisa juga muncul sakit perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk. Segera konsultasi ke dokter apabila muncul tanda-tanda dan gejala tersebut, apalagi jika mengalami demam tinggi selama 3 hari berturut-turut.


Pencegahan

Belum ada vaksin untuk demam berdarah. Untuk mencegah DBD diperlukan upaya-upaya pengendalian vektor, yaitu memotong siklus hidup nyamuk Aedes dengan cara :
  • Menguras bak mandi sekurang-kurangnya seminggu sekali,
  • Menutup wadah yang dapat menampung air,
  • Mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air dan menjadi sarang perkembangan jentik-jentik nyamuk,
  • Mengganti air vas bunga sekurang-kurangnya seminggu sekali,
  • Mengganti air di tempat minum burung sekurang-kurangnya seminggu sekali,
  • Memelihara ikan di tempat-tempat penampungan air,
  • Mengosongkan air pada kolam yang tidak dipakai atau pot bunga,
  • Menabur bubuk abate atau yang sejenis pada tempat-tempat penampungan air (mis. sumur, bak penampungan air) untuk mematikan jentik-jentik nyamuk sehingga tidak berkembang menjadi nyamuk dewasa,
  • Fogging atau pengasapan untuk mematikan nyamuk dewasa.
Selain upaya-upaya di atas, perlu dilakukan upaya untuk menjaga kesehatan tubuh dengan cara melakukan pola hidup sehat, seperti makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, olah raga teratur, dan minum vitamin atau suplemen jika memang diperlukan. Selain itu hindari aktifitas-aktifitas yang dapat menurunkan stamina, misalnya begadang, bekerja tak kenal waktu, hujan-hujanan, dsb.

Jika mengalami demam, segera berikan obat penurun panas, istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi dan banyak mengasup cairan (minum). Segera konsultasikan ke dokter jika muncul gejala-gejala seperti di atas. Jika terlihat tanda-tanda syok, segera bawa penderita ke rumah sakit agar cepat mendapatkan penanganan medis.

Kamis, 10 Juni 2010

Sel Seri Eritropoesis


Rubriblast
Rubriblast disebut juga pronormoblast atau proeritrosit, merupakan sel termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa anak inti dan kromatin yang halus. Dengan pulasan Romanowsky inti berwarna biru kemerah-merahan sitoplasmanya berwarna biru. Ukuran sel rubriblast bervariasi 18-25 mikron. Dalam keadaan normal jumlah rubriblast dalam sumsum tulang adalah kurang dari 1 % dari seluruh jumlah sel berinti.

Prorubrisit
Prorubrisit disebut juga normoblast basofilik atau eritroblast basofilik. Pada pewarnaan kromatin inti tampak kasar dan anak inti menghilang atau tidak tampak, sitoplasma sedikit mengandung hemoglobin sehingga warna biru dari sitoplasma akan tampak menjadi sedikit kemerah-merahan. Ukuran lebih kecil dari rubriblast. Jumlahnya dalam keadaan normal 1-4 % dari seluruh sel berinti.

Rubrisit
Rubrisit disebut juga normoblast polikromatik atau eritroblast polikromatik. Inti sel ini mengandung kromatin yang kasar dan menebal secara tidak teratur, di beberapa tempat tampak daerah-daerah piknotik. Pada sel ini sudah tidak terdapat lagi anak inti, inti sel lebih kecil daripada prorubrisit tetapi sitoplasmanya lebih banyak, mengandung warna biru karena kandungan asam ribonukleat (ribonucleic acid-RNA) dan merah karena kandungan hemoglobin, tetapi warna merah biasanya lebih dominan. Jumlah sel ini dalam sumsum tulang orang dewasa normal adalah 10-20 %.

Metarubrisit
Sel ini disebut juga normoblast ortokromatik atau eritroblast ortokromatik. Inti sel ini kecil padat dengan struktur kromatin yang menggumpal. Sitoplasma telah mengandung lebih banyak hemoglobin sehingga warnanya merah walaupun masih ada sisa-sisa warna biru dari RNA. Jumlahnya dalam keadaan normal adalah 5-10 %.

Retikulosit
Pada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan penglepasan inti sel, masih diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan sisa-sisa RNA. Sebagian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan sebagian lagi dalam darah tepi. Pada saat proses maturasi akhir, eritrosit selain mengandung sisa-sisa RNA juga mengandung berbagai fragmen mitokondria dan organel lainnya. Pada stadium ini eritrosit disebut retikulosit atau eritrosit polikrom. Retikulum yang terdapat di dalam sel ini hanya dapat dilihat dengan pewarnaan supravital. Tetapi sebenarnya retikulum ini juga dapat terlihat segai bintik-bintik abnormal dalam eritrosit pada sediaan apus biasa. Polikromatofilia yang merupakan kelainan warna eritrosit yang kebiru-biruan dan bintik-bintik basofil pada eritrosit sebenarnya disebabkan oleh bahan ribosom ini. Setelah dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan beredar sebagai retikulosit selama 1-2 hari. Kemudian sebagai eritrosit matang selama 120 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5-2,5 % retikulosit.

Eritrosit
Eritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkav dengan ukuran diameter 7-8 um dan tebal 1,5-2,5 um. Bagian tengah sel ini lebih tipis daripada bagian tepi. Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarna kemerah-merahan karena mengandung hemoglobin. Eritrosit sangat lentur dan sangat berubah bentuk selama beredar dalam sirkulasi. Umur eritrosit adalah sekitar 120 hari dan akan dihancurkan bila mencapai umurnya oleh limpa. Banyak dinamika yang terjadi pada eritrosit selama beredar dalam darah, baik mengalami trauma, gangguan metabolisme, infeksi Plasmodium hingga di makan oleh Parasit.

Sel Seri Monosit dan Limfosit


MONOSIT
Monoblast dan Promonosit
Monoblast dan promonosit dalam keadaan normal sulit dikenal atau dibedakan dari mieloblast dalam sumsum tulang, tetapi pada keadaan abnormal misalnya pada proliferasi berlebihan sel seri ini, monobalst dan promonosit dapat dikenali dari intinya yang memperlihatkan lekukan terlipat atau menyerupai gambaran otak dan sitoplasma dengan pseudopodia.

Monosit
Besarnya sel 10 – 22 mikron, Inti sel, Letaknya dalam sel eksentrik. Bentuk inti menyerupai otak (brain like form), Warna inti kemerah-merahan/keunguan, Kromatin tersusun lebih kasar, Butir inti (nucleoli) tidak ada, Sitoplasma, Luasnya/lebarnya relatif lebih besar kadang-kadang ada pseudopodia, Warna sitoplasma biru pucat, Perinuklear Zone tidak ada, Granula dalam sitoplasma kadang-kadang ada granula Azurophil, Fungsi melakukan fagositosis.


LIMFOSIT
Limfoblast dan Prolimfosit
Limfoblast memiliki inti bulat berukuran besar dengan satu atau beberapa anak inti, kromatin inti tipis rata dan tidak menggumpal. Sitoplasma sedikit dan berwarna biru. Prolimfosit menunjukkan kromatin lebih kasar tetapi belum menggumpal seperti limfosit. Kadang-kadang sulit membedakan limfoblast dari limfosit dan pada keadaan ragu-ragu dianjurkan untuk menganggap sel itu sebagai limfosit.

Limfosit
Besarnya sel 10 – 15 mikron , Ada yang besar (limposit besar), ada yang sedang (limposit sedang), ada yang kecil (limposit kecil).Inti sel, letaknya dalam sel eksentrik, Bentuk inti Oval / bulat dan relatif besar, Warna inti Biru gelap, Kromatin kompak memadat, Membran inti kurang jelas terlihat, Butir inti(nucleoli) tidak ada, sitoplasma, luasnya/lebarnya relatif sempit,Warna sitoplasma Oxyphil, Perinuklear Zone umumnya tidak ada,Granula dalam sitoplasma tidak ada. Kalau ada granula disebut granula Azurophil. Fungsi berhubungan aktifitas imunitas seluler dan imunitas humoral.



Sel Plasma
Sel Plasma (Plasmosit) mempunyai hubungan erat dengan limfosit. Sel pelopor plasmosit maupun limfosit terdapat dalam jaringan limfoid dan keduanya merupakan unsur penting dalam sistem imun tubuh. Akibat stimulasi antigen, sel limfosit B mengalami transformasi blast dan membentuk sel plasma yang memproduksi imunoglobulin.
Plasmosit dalam keadaan normal tidak tampak dalam darah tepi tetapi dijumpai dengan jumlah sekitar 1 % dari sel berinti dalam sumsum tulang. Dalam keadaan normal plasmablast dan proplasmosit tidak dapt dijumpai dalam sumsum tulang tetapi tampak pada keadaan-keadaan tertentu yang disertai proliferasi berlebih dan juga peningkatan produksi imunoglobulin. Ukuran,bentuk dan struktur plasmablast sulit dibedakan dari blast yang lain, tetapi hanya satu cara yang dapat dipakai untuk membedakan plasmosit dari seri balst yang lain, yaitu bentuk inti yang eksentrik dan adanya bagian zona jernih melingkar (halo) disekitar inti.

Sel Seri Granulosit


Mieloblast
Mieloblast adalah sel termuda diantara seri granulosit. Sel ini memiliki inti bulat yang berwarna biru kemerah-merahan, dengan satu atau lebih anak inti, kromatin inti halus dan tidak menggumpal. Sitoplasma berwarna biru dan sekitar inti menunjukkan warna yang lebih muda. Mieloblast biasanya lebih kecil daripada rubriblast dan sitoplasmanya kurang biru dibandingkan rubriblast. Jumlahnya dalam sumsum tulang normal adalah < 1% dari jumlah sel berinti.

Promielosit
Dalam fase ini sitoplasma seri granulosit telah memperlihatkan granula berwarna biru tua / biru kemerah-merahan. Berbentuk bulat dan tidak teratur. Granula sering tampak menutupi inti. Granula ini terdiri dari lisozom yang mengandung mieloperoksidase, fosfatase asam, protease dan lisozim. Inti promielosit biasanya bulat dan besar dengan struktur kromatin kasar. Anak inti masih ada tetapi biasanya tidak jelas. Jumlah sel ini dalam sumsum tulang normal adalah 1-5 %.

Mielosit
Pada mielosit granula sudah menunjukkan diferensiasi yaitu telah mengandung laktoferin, lisozim peroksidase dan fosfatase lindi. Inti sel mungkin bulat atau lonjong atau mendatar pada satu sisi, tidak tampak anak inti, sedangkan kromatin menebal. Sitoplasma sel lebih banyak dibandingkan dengan promielosit. Jumlahnya dalam keadaan normal adalah 2-10 %.

Metamielosit
Dalam proses pematangan, inti sel membentuk lekukan sehingga sel berbentuk seperti kacang merah, kromatin menggumpal walaupun tidak terlalu padat. Sitoplasma mengandung granula kecil berwarna kemerah-merahan. Sel ini dalam keadaan normal tetap berada dalam sumsum tulang dengan jumlah 5-15 %.

Neutrofil Batang dan Segmen
Metamielosit menjadi batang apabila lekukan pada inti melebihi setengah ukuran inti yang bulat sehingga berbentuk seperti batang yang lengkung. Inti menunjukkan proses degeneratif, kadang-kadang tampak piknotik pada kedua ujung inti. Sitoplasma mengandung granula halus berwarna kemerah-merahan. Dalam darah tepi ditemukan hanya 2-6% dari sel-sel leukosit normal. Selanjutnya sel ini menjadi neutrofil segmen. Dalam sumsum tulang normal sel ini merupakan 10-40 % dari sel berinti.

SETTING GPRS MANUAL

Berhubung masih banyak yang nanya soal setting GPRS dan MMS untuk berbagai ponsel,terutama ponsel china, ini saya posting PARAMETER yang benar.Karena hampir semua parameter bawaan dari ponsel sudah out of date, alias parameter lama yang sudah tidak bisa dipakai.

Juga ada yang request setting GPRS dan MMS untuk K-Touch C800 yang baru saja muncul di pasaran, intinya apapun merek HP tsb, kita bisa setting secara MANUAL untuk bisa dipakai sebagai GPRS Connection. Mungkin yang membingungkan adalah letak dimana kita mesti rubah parameter tsb kan ?hehehe…kebanyakan chat YM yang menanyakan hal tsb.

Nah kalo untuk hal itu, silakan YM saya aja, karena ada beberapa tipe ponsel yang letak setting parameter GPRS dan MMS berbeda tempat. Kalo emang dicari2 udah ketemu, silakan untuk panduan PARAMETER GPRS dan MMS nya bisa pakai sebagai berikut :

Untuk GPRS dan MMS kartu IM3 dan MENTARI :

APN: indosatgprs
User : indosat
Pass : indosat
Proxy : 10.19.19.19
Port : 8080
Homepage : http://wap.indosat.com

APN: indosatmms
User : indosat
Pass : indosat
Proxy : 10.19.19.19
Port : 8080
Homepage : http://mmsc.indosat.com

Untuk GPRS dan MMS kartu XL BEBAS

APN: www.xlgprs.net
User : xlgprs
Pass : proxl
Proxy : 202.152.240.050
Port : 8080
Homepage : http://wap.xl.co.id

APN: www.xlmms.net
User : xlgprs
Pass : proxl
Proxy : 202.152.240.050
Port : 8080
Homepage : http://mmc.xl.net.id/servlets/mms

Untuk GPRS dan MMS kartu SIMPATI TELKOMSEL

APN: telkomsel
User : wap
Pass : wap123
Proxy : 10.1.89.130
Port : 8000
Homepage : http://wap.telkomsel.com

APN: mms
User : wap
Pass : wap123
Proxy : 10.1.189.150
Port : 8000
Homepage : http://mms.telkomsel.com

SETTING GPRS MANUAL

Berhubung masih banyak yang nanya soal setting GPRS dan MMS untuk berbagai ponsel,terutama ponsel china, ini saya posting PARAMETER yang benar.Karena hampir semua parameter bawaan dari ponsel sudah out of date, alias parameter lama yang sudah tidak bisa dipakai.

Juga ada yang request setting GPRS dan MMS untuk K-Touch C800 yang baru saja muncul di pasaran, intinya apapun merek HP tsb, kita bisa setting secara MANUAL untuk bisa dipakai sebagai GPRS Connection. Mungkin yang membingungkan adalah letak dimana kita mesti rubah parameter tsb kan ?hehehe…kebanyakan chat YM yang menanyakan hal tsb.

Nah kalo untuk hal itu, silakan YM saya aja, karena ada beberapa tipe ponsel yang letak setting parameter GPRS dan MMS berbeda tempat. Kalo emang dicari2 udah ketemu, silakan untuk panduan PARAMETER GPRS dan MMS nya bisa pakai sebagai berikut :

Untuk GPRS dan MMS kartu IM3 dan MENTARI :

APN: indosatgprs
User : indosat
Pass : indosat
Proxy : 10.19.19.19
Port : 8080
Homepage : http://wap.indosat.com

APN: indosatmms
User : indosat
Pass : indosat
Proxy : 10.19.19.19
Port : 8080
Homepage : http://mmsc.indosat.com

Untuk GPRS dan MMS kartu XL BEBAS

APN: www.xlgprs.net
User : xlgprs
Pass : proxl
Proxy : 202.152.240.050
Port : 8080
Homepage : http://wap.xl.co.id

APN: www.xlmms.net
User : xlgprs
Pass : proxl
Proxy : 202.152.240.050
Port : 8080
Homepage : http://mmc.xl.net.id/servlets/mms

Untuk GPRS dan MMS kartu SIMPATI TELKOMSEL

APN: telkomsel
User : wap
Pass : wap123
Proxy : 10.1.89.130
Port : 8000
Homepage : http://wap.telkomsel.com

APN: mms
User : wap
Pass : wap123
Proxy : 10.1.189.150
Port : 8000
Homepage : http://mms.telkomsel.com